Jatirejo – Pandemi Covid-19 memang masih menjadi hantu bagi warga masyarakat, namun itu tidak dijadikan alasan untuk berhenti berkreatif bagi warga masyarakat jatirejo. serba-serbi dan antusias dalam menyambut malam 17 Agustus Perangkat Desa Jatirejo tetap menjalankan ritual seperti malam-malam 17 agustus sebelumnya, namun untuk kali ini perangkat desa Jatirejo tidak terlalu melibatkan banyak masyarakat yang nantinya akan berimbas kepada perkumpulan banyak orang. Perangkat desa Jatirejo berinisiatif mengadakan Acara Lomba tumpeng yang dalam hal ini pesertanya bukan lagi dari masyarakat jatirejo melainkan dari Perangkat Desa , BPD dan LPM desa Jatirejo.
Dalam perlombaan ini kenapa yang di perlombaan yaitu tumpeng, karena tumpung sendiri memiliki filosofi yang sangat erat dengan adat jawa bahwa kata 'tumpeng' merupakan akronim dari kalimat 'yen meTu kudu meMPENG'," yang berarti "ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat".
"Mungkin maksudnya adalah manusia ketika terlahir harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, tidak mudah putus asa. Juga dalam proses itu semua, percayalah bahwa Tuhan ada bersama kita,"
Maka tak heran jika nasi tumpeng memiliki bentuk kerucut yang merepresentasi konsep ketuhanan dengan sesuatu yang besar dan tinggi, dan berada di puncak. Selain itu, bentuk yang menjulang ke atas juga menyimbolkan harapan agar tingkat kehidupan manusia semakin ‘tinggi’ alias sejahtera.
Selain mengadakan perlombaan momen menyambut malam HUT RI 75 th ini juga mengadakan doa bersama yang pada hal ini di pimpin langsung oleh perangkat Desa Jatirejo. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, menggunakan masker dan cuci tangan sebelum masuk area balai Desa dan tidak sebegitu melibatkan banyak orang maka perangkat desa jatirejo berhasil membuat momen acara tasyakuran menyambut HUT RI 75 th cukup meriah dan khidmat. DIRGAHAYU INDONESIAKU 75 th semoga jaya selalu dan tetap semangat untuk Indonesia maju.